HOME | DD
Published: 2019-05-30 16:54:43 +0000 UTC; Views: 1331; Favourites: 2; Downloads: 0
Redirect to original
Description
Apapun Yang Terjadi.Chapter 4. Taufan
.
.
.
Dari lantai kedua hotel itu Taufan bisa mendengar samar-samar suara orang yang sedang baku hantam di lantai pertama dan lantai ketiga. 'Katanya hindari konflik, tapi mereka berdua malah adu jotos' Pikir Taufan yang sedang bersembunyi di balik sebuah pilar besar. Sesekali disembulkan kepalanya sedikit mungkin untuk mengamati pergerakan beberapa penjaga yang mondar-mandir di sepanjang koridor yang membentang di hadapannya.
Yang membuat Taufan gelisah bukanlah penjaga itu, namun suara rintihan mengiris hati yang berasal dari beberapa kamar di lantai kedua hotel itu. Di beberapa kamar terakhir yang diintipnya, Taufan menyaksikan sendiri beberapa anak yang seumuran dengan Blaze disekap tanpa daya. Tidak perlu otak jenius untuk menyimpulkan apa yang terjadi pada adiknya setelah menyaksikan sendiri apa yang terjadi pada korban para penculik itu.
Entah sudah berapa lama Taufan bersembunyi di balik pilar itu, menunggu jumlah penjaga yang mondar-mandir di lantai itu berkurang. Dua dari empat penjaga yang dilihat Taufan tadi sudah tidak ada. Hanya tersisa dua orang saja yang masih tetap berada di lantai itu. 'Ngga ada jalan lain... Baik... Kuselesaikan secepat mungkin !'.
Dengan langkah cepat, berjinjit dan tanpa suara, Taufan berlari secepat mungkin menghampiri kedua penjaga yang tersisa. Shinai nya diangkat di atas kepalanya. Targetnya adalah ubun-ubun dan leher dari kedua penjaga yang jaraknya sudah semakin dekat.
Hanya suara seperti desiran angin saja yang terdengar ketika Taufan mengayunkan shinai nya. Pukulan telak mendarat pada ubun-ubun kepala penjaga pertama yang langsung pingsan. Belum sempat penjaga yang kedua bereaksi ketika Taufan menghantamkan gagang shinainya pada tenggorokan lawannya sekaligus mencegah penjaga kedua itu berteriak. Dengan gerakan berputar, Taufan mengayunkan shinai yang didorong momentum putaran badannya ke arah kepala si penjaga yang sudah terhuyung-huyung itu.
'Beres !' Batin Taufan puas setelah berhasil membereskan kedua penjaga yang tersisa itu hampir tanpa bersuara sedikit pun.
Dari lantai pertama, Taufan dapat mendengar suara dua orang yang sedang baku hantam. Sementara dari lantai di atasnya hampir tidak ada suara samasekali yang terdengar. "Coba aku kebawah, mungkin Gempa perlu bantuan..." Gumam Taufan lembut sembari melangkah ringan menuju tangga darurat yang menghubungkan ketiga lantai hotel itu.
Dari balik pintu tangga darurat Taufan bisa melihat Gempa sedang berhadapan dengan seorang penjaga kekar yang meladeni seluruh serangan Gempa dengan relatif mudah. Bukan hanya meladeni, bahkan sempat membuat Gempa terpojok.
Apalagi ketika hidung Gempa terkena pukulan yang menyakitkan. Meskipun bukan Taufan sendiri yang menerima pukulan, ia dapat merasakan sakitnya ketika darah kakaknya mengucur dari hidung. 'Harus kubantu GemGem !".
Belum sempat Taufan keluar dari persembunyiannya di balik pintu darurat ketika ia melihat Gempa kembali menyerang. 'Bagus, GemGem, gunakan kelincahanmu !' Pekiknya dalam hati ketika melihat Gempa mengubah strategi dan mulai mendesak mundur penjaga yang dilawannya itu. Taufan baru saja akan bergabung ke dalam pertarungan itu dan membantu saudaranya ketika ia menyadari bahwa Gempa terlalu terfokus pada satu orang penjaga dan melupakan penjaga yang satu lagi, yang mengayunkan tongkat rotannya ke arah leher saudaranya.
Taufan menutup mulutnya erat-erat mencegah suaranya keluar ketika menyaksikan pemandangan yang sangat tidak ingin dilihatnya. Seluruh isi perutnya terasa diaduk-aduk ketika tongkat rotan mendarat pada leher Gempa, yang langsung terpatah dengan suara yang sangat menyakitkan untuk didengar.
'TIDAK !. INI TIDAK TERJADI !. GEMPA !' Jerit Taufan dalam hati yang langsung terduduk lemas di balik pintu tangga darurat. Air matanya mengalir tak terbendung ditengah sesegukan yang sangat ditahan-tahan dengan cara menggigit bibir bawahnya sendiri.
'Ini bukan film action dimana jagoan selalu menang' Taufan mengingat perkataannya sendiri sebelum mereka berangkat. 'Kita selalu bersatu apapun yang terjadi...' Perkataan terakhir Gempa di kamar mereka terngiang kembali.
Biasanya Taufan adalah yang menghibur saudara-saudara kembarnya yang kesusahan. Kali ini dirinyalah yang perlu hiburan, tapi hiburan apa yang bisa menghapus duka seorang Taufan yang baru saja menyaksikan saudara kembarnya kehilangan nyawa ?.
"Mata ganti mata, gigi ganti gigi, darah ganti darah... Nyawa ganti nyawa" Desis Taufan mengulangi sebuah kutipan yang pernah dibacanya. "Mereka... Harus membayar mahal..." Taufan menggenggam shinainya dengan erat dan berdiri dari posisi duduknya. Disaksikannya dua orang penjaga tadi itu memegang jasad Gempa pada pergelangan kaki. 'ASTAGA, ITU ADIKKU, BUKAN BANGKAI !' Teriak Taufan dalam hati ketika melihat Gempa yang sudah tak bernyawa diseret begitu saja bagaikan seonggok bangkai binatang oleh beberapa orang penjaga.
Darah Taufan bergolak, Ingin sekali ia membalas kematian Gempa saat itu juga. Namun sedikit dari sisa pikiran warasnya mencegah niatnya. Ia ingat bahwa tujuan utama, yaitu menyelamatkan Blaze belum tercapai. 'Blaze harus selamat dulu, urusan dendam menyusul...' Batin Taufan yang mati-matian mencoba menenangkan diri.
Taufan memutuskan untuk membuntuti para penjaga yang menyeret-nyeret Gempa dengan hati yang tersayat-sayat, tidak tega melihat jasad adiknya diperlakukan begitu.
.
.
"Ada yang ngga beres..." Gumam Halilintar yang masih bersama Blaze di dalam kamar tempatnya disekap. Dadanya mendadak terasa sangat sesak.
"Iya... Aku juga merasakan..." Desah Blaze. "Eh ? Kak Hali, ada langkah mendekat".
"Sst... Aku dengar".
Suara langkah samar-samar memang terdengar mendekat. Namun bukan suara berat sepatu para penjaga yang biasa berpatroli.
"Aku kenal suara langkah itu..." Halilintar tersenyum.
"Hah ? Siapa kak ?".
"Psst.. Hali ? Blaze ?" Sebuah suara terdengar dari balik pintu.
"Kak Fang ?".
"Huh... Akhirnya ketemu juga kalian". Sedetik kemudian terdengar bunyi gemerincing gantungan kunci dan terbukalah pintu kamar itu.
"Syukurlah kau selamat, Blaze" Fang menarik napas lega melihat adik dari temannya itu masih dalam keadaan hidup, walaupun terlihat menyedihkan. "Ayo kita kembali ke titik kumpul"
"Tunggu, Kak Fang, Kak Hali" Ujar Blaze menahan keduanya. "Banyak anak-anak lain disini yang disekap ? Mereka bagaimana ?".
"Yang penting kau dulu, Blaze... Nanti abangku pasti menyusul kemari... Ayo kita pergi" Fang tak mau berlama-lama lagi di tempat yang suram itu.
Dengan berat hati Blaze beranjak mengikuti Fang dan Halilintar. Dalam hatinya ia ingin sekali bisa menolong anak-anak laiin yang juga menjadi korban penculikan.
"Ngga ada penjaga ?. Aneh" Gumam Blaze ketika ia mengikuti dibelakang Fang dan Halilintar menelusuri lorong koridor.
"Aku cuma bertemu dua penjaga di lantai ini. Semuanya sudah kubuat pingsan" Jawab Fang. "Mereka ada yang bisa beladiri juga. Untungnya aku masih bisa mengatasi mereka"
"Aku sih yakin" Sahut Halilintar setengah berbisik. "Aku bisa merasakan kalau tenaga mereka itu lumayan waktu aku diikat".
"Tapi bukan tandingan kita... Kalau kamu bukan umpan, mereka sudah babak belur kan ?" Ujar Fang dengan senyuman tipis.
"Yah, begitulah. Padahal aku mau menghajar mereka yang membuat Blaze sengsara".
Dengan hati-hati, Fang menuntun Halilintar dan Blaze melewati jalan yang dilaluinya ketika mencari kamar dimana Blaze disekap. Yang agak sulit adalah melewati bagian tengah lantai ketiga hotel itu yang merangkap jadi sebuah balkon besar dimana ketiga lantai itu dengan mudah dipantau dari bagian lobby utama di lantai pertama.
"Astaga... Hali... Itu..." Langkah Fang berhenti ketika dari tepi balkon lantai ketiga itu ia melihat sesosok tubuh berjaket hitam-kuning yang terkapar di tengah-tengah lobby utama. Dikenalinya jaket hitam kuning yang identik dengan adik dari Halilintar. "Itu.. Gempa ?".
Jantung Halilintar serasa berhenti berdetak karena ia mengenali sosok terkapar yang ditunjuk oleh Fang. Rambut hitam dengan beberapa helai surai putih menjadi bukti bahwa yang dilihat Fang adalah Gempa. "Ge... Gempa ?" Ulu hati Halilintar serasa dipukuli melihat sosok adiknya tergeletak begitu. Pikirannya benar-benar kalap, ia langsung berlari menuruni tangga utama tanpa memperdulikan apapun. Fang berusaha mencegahnya untuk menghindari resiko tertangkap oleh para penculik. Namun usahnya sia-sia saja karena dalam hitungan detik saja, Halilintar sudah turun sampai ke lobby utama.
"Ge... Gempa, kamu ?" Halilintar langsung berlutut di sisi Gempa yang terkulai. Jari-jemarinya langsung meraba hidung dan leher adiknya 'Napasnya...Nadinya... Tidak ada ?!'. Dicobanya mengangkat tubuh adiknya dan alangkah sakitnya hati Halilintar begitu kepala adiknya terjeblak ke belakang dengan sudut yang samasekali tidak normal.
'Tidak... Ini tidak terjadi...Gempa... Astaga... Tuhan... Jangan adikku ini... GEMPA !'
"GEMPA !" Jeritan putus asa Halilintar yang menyayat hati bergema. Dipeluknya erat-erat tubuh adiknya yang sudah tidak bernyawa itu dengan berderai air mata di tengah sesegukan yang sangat ditahan-tahan.
Blaze tidak perlu bertanya apa yang terjadi pada kakaknya. "Bangun Kak Gemgem... Bangun..." Dipanggilnya nama kakaknya dan berharap sebuah keajaiban akan membuat kakaknya hidup kembali. Tidak mampu lagi Blaze meneteskan air matanya yang sudah mengering. Hanya isak dan sesegukan pilu yang keluar dari mulutnya. "Jangan tinggalkan Blaze, kak...".
Lobby utama yang tadinya gelap mendadak menjadi terang. Seluruh lampu di lobby serempak menyala. Nampaklah seorang berpakaian jas formal hijau lengkap dengan dasi merah telah berdiri di depan meja resepsionis lobby hotel itu. Dalam genggamannya sebuah pistol berukuran besar terbidik pada kumpulan pemuda di hadapannya "Cukup matikan satu ekor, maka lalat yang lain akan mengerubungi..."Ujar orang itu sembari menyibakkan ramput panjangnya yang sudah memutih. Dari pembawaan dirinya jelas sekali bahwa dia adalah boss dari operasi ini
"Setan..." Halilintar menggeram. "Kau culik dan kau bunuh adikku...".
Halilintar hendak melangkah maju namun Fang menghentikannya. Ia mengenal jenis senjata pistol revolver yang dipegang orang itu. "Taurus 454... Jangan Hali...".
"Lepaskan aku, Fang... Biar kulumat jahanam itu".
Mati-matian Fang berusaha menghentikan Halilintar. "HALI !" Bentaknya. "Jangan mati konyol ! Kau yang bakal lumat duluan ditembak pistol itu".
"Betul saran temanmu itu... Jangan mati konyol" Tawa jahat sang boss bergema. "Menyerahlah, mungkin kalian bertiga masih kubiarkan hidup... Dan masih ada harganya kalau kujual".
"Kau pikir kau bisa pergi dari tempat ini ?!" Gantian Fang menghardik. "Lihat mukaku... Kau kenal siapa aku ?".
Sang boss terdiam mengamati wajah Fang. "Kau... Mirip sekali dengan orang yang menghancurkan organisasiku dulu...".
"Itu karena aku adiknya !" Bentak Fang. "Sentuh kami maka kau tahu akan berurusan dengan siapa".
"Tidak masalah" Sang boss menarik pemukul revolvernya. "Waktu kakakmu datang, kami sudah jauh dari sini... Dan dia hanya menemukan mayat kalian saja". Jari sang boss bersentuhan dengan pelatuk revolver itu.
"MATI KAU !" Pekikan nyaring terdengar dari arah samping ketika Taufan yang dari tadi bersembunyi mengambil kesempatan untuk menghujamkan shinai bambunya ke arah kepala sang boss.
Jarak antara Taufan dan sang boss semakin dekat dalam hitungan detik saja. Taufan yakin bahwa sebentar lagi kematian Gempa akan dibalaskannya.
Denyut jantung Taufan seakan berhenti mendadak. paru-parunya terasa tersedot kosong dan kedua matanya terbuka lebar ketika mendapati dirinya bertatapan langsung dengan laras revolver dan silindernya yang terisi peluru. 'Alamak... Habislah-'
-BLARR !-
Waktu seperti berjalan sangat lambat ketika sang boss menekan penuh pelatuk revolvernya. Tekanan pada pelatuk melepaskan pemukul revolver itu yang berlanjut mengetuk sebuah peluru yang kemudian melesat dan menembus bagian dada pemuda yang sedang menyerangnya.
Hampir seluruh isi dada Taufan berhamburan dibalik semburan darahnya setelah dihajar peluru kaliber sebesar itu.
"TAUFAN !"Jerit Halilintar yang berlari menghampiri tubuh adiknya yang tumbang bersimbah darah. "Ta... Taufan...?" Panggilnya dengan suara lirih yang gemetaran. Baru saja ia menemukan Gempa yang sudah tidak bernyawa dan sekarang ia harus menyaksikan seorang lagi adiknya yang meregang nyawa.
Taufan tidak bisa menjawab karena paru-parunya yang hancur tidak mampu lagi menggetarkan pita suaranya. Kedua matanya yang berkaca-kaca bergetar, melirik ke arah Blaze sebelum menatap kakaknya dengan pandangan sendu. Terlihat bibirnya membuka-tutup seakan hendak berbicara. 'Kak Hali... Blaze... GemGem... Aku... Pulang'. Dengan sisa tenaga penghabisan Taufan berusaha untuk meraih tangan Halilintar, namun tangan itu lebih dulu terkulai tidak bernyawa lagi.
"Gempa... Taufan..." Lirih Halilintar yang masih berlutut disebelah jasad adiknya. Sesaat Halilintar mematung, kedua matanya terpejam erat, melupakan dimana dirinya berada sekarang. Kenangan-kenangan masa lalunya bersama kedua adiknya seperti terulang dalam benaknya. "Kita... Berjanji... Bersatu selamanya... Kenapa jadi begini... Ini semua salahku... "
'Hali... Blaze masih dalam bahaya..'
'Selamatkan Blaze, Kak Hali...'
'Gempa ? Taufan ?'
"Ah sudahlah !" Bentak sang boss yang membuyarkan ratapan pilu Halilintar.
"Lebih baik kuhabisi kalian semua sekarang !" Sang boss membidik ke arah Blaze yang masih berada di sisi Gempa yang sudah tidak bernyawa.
"JANGAN !" Pekik Fang yang secara reflek langsung memposisikan diri di antara bidikan sang boss dan Blaze.
"MINGGIR FANG !" Merasa keselamatan Blaze bukan tanggung jawab Fang melainkan dirinya sendiri, Halilintar menempatkan diri di depan Fang sembari mendorong sahabatnya itu menjauh dari garis arah bidikan sang boss.
-BLARR !-
-DOR !-
Dua buah suara tembakan bersahutan dari dua senjata yang berbeda arah.
.
.
.
BERSAMBUNG.
Author note:
-Si boss penculik itu terinspirasi dari karakter game Bare Knuckle/Streets Of Rage bernama Mr. X








