HOME | DD

LightDP — Chapter 5, Halilintar [NSFW]
Published: 2019-05-30 16:55:43 +0000 UTC; Views: 1320; Favourites: 2; Downloads: 0
Redirect to original
Description Apapun Yang Terjadi.

Chapter 5. Halilintar

Author note:

-Aku sarankan membaca chapter ini sambil mendengarkan lagu soundtrack Schindler's List Main Theme.

.

.

.

-BLAR !-

-DOR !-

Dua buah suara tembakan bersahutan hampir pada saat yang bersamaan.

Perlahan-lahan Blaze membuka matanya. "K... Kak Fang ?... Kak Hali ?".

Kedua orang yang disebutnya tadi rubuh bersamaan. Orang ketiga yang rubuh adalah sang boss mafia itu sendiri yang kepalanya sudah berlubang terkena terjangan sebuah peluru

"KAK HALI !" Jerit Blaze yang menghampiri kakak tertuanya yang baru saja tumbang bersimbah darah. Kedua tangan Halilintar dilihatnya gemetaran hebat memegangi isi perutnya terlihat hancur akibat terjangan peluru sang boss mafia itu.

"FANG !, HALILINTAR !". Kapten Polisi Kaizo berdiri di pintu utama hotel itu dengan pistol yang masih mengepulkan asap berada dalam genggamannya. Ialah yang menembak dan mengakhiri riwayat sang boss mafia itu. Wajah sang kapten terlihat pucat dan tegang ketika ia menghampiri adiknya yang bersimbah darah di sebelah Halilintar. Sementara di belakang Kapten Kaizo berjajar anggota-anggota kepolisian bersenjata lengkap yang langsung bergerak mengamankan hotel tua itu.

"S… Sakit…." Rintih Fang yang memegangi bagian pinggir perutnya yang ikut tertembus peluru ketika ia dan Halilintar melindungi Blaze dengan badan mereka.

Kaizo langsung memeriksa luka pada perut adiknya. Napasnya melega ketika melihat bahwa luka tembak pada perut adiknya itu tidak fatal. Peluru itu berbelok arah ketika melewati tubuh Halilintar dan menerjang bagian samping perut Fang. "Jangan bergerak Fang. Kami akan segera membawamu".

Setelah memeriksa adiknya, Kaizo beranjak menghampiri Blaze yang berlutut di sisi kakaknya. "Blaze, bagaimana Ha… Halilintar… ?"

"A… Abang Kaizo… Selamatkan Kak Hali… Tolong" Pinta Blaze dengan lirih, menunjuk pada perut Halilintar yang terluka lebar dan isinya hancur berantakan.

Kaizo tidak bisa menjawab. Bahkan orang yang buta mengenai kedokteran atau forensik pun tahu bahwa sudah tidak ada harapan bagi Halilintar. "Maaf... Blaze..." Hanya itu yang terucap oleh Kapten Kaizo yang berusaha mengalihkan tatapan matanya dari pemandangan mengerikan itu.

"Kak Hali... Bangun kak…" Blaze memegangi tangan kakaknya dan mengusapkan pipinya pada tangan kakaknya yang terbaring di sisinya. "Kak… Kakak " Pintanya di sela-sela lirihan pilu Blaze yang menyayat Hati.

"B..Blaze… " Bisik Halilintar di sela-sela napasnya yang semakin pendek. "Kamu… Tertua sekarang… Kamu... Thorn…". Darah kembali menyembur ketika Halilintar mencoba bernapas dan terbatuk. "Jaga.. Ice… Solar… Ingat… Pesan… Kakek".

Dengan tersedu-sedu, Blaze memeluk badan kakaknya yang semakin melemah itu. Ia tidak mau kehilangan orang yang selama ini membelanya. "Blaze ingat kak… Blaze ingat….Bersatulah apapun yang terjadi….Ayo Kak Hali, bangun… Jangan tinggalin Blaze… Ice, Thorn, Solar… Kami semua sayang Kak Hali".

"Ha... Halilintar..." Fang mendesah dan berusaha mendekati sahabatnya yang tengah meregang nyawa. Namun perihnya luka tembak pada perutnya melumpuhkannya dan menghentikan usahanya.

Halilintar tidak menjawab. Matanya bergerak ke arah Fang kemudian Gempa dan Taufan yang sudah tidak bernyawa lagi. "Fang... Terima kasih... Blaze… Jaga dirimu…". Dengan sisa tenaganya yang penghabisan, Halilintar meletakkan tangannya di atas kepala Blaze. "Adikku tersayang…". Sang kakak tertua menutup matanya. Tangannya yang lemah membelai kepala adiknya satu kali terakhir sebelum terjatuh dan terkulai.

"KAKAK !". Pecahlah tangisan Blaze yang menyayat hati. Telah pergi ketiga kakaknya yang setia membela, melindungi dan menghiburnya selama ini.

"Zai jian... Halilintar..." Bisik Fang. Ditengah kelumpuhan karena menahan sakit yang luar biasa, Fang hanya bisa memegangi tangan sahabatnya yang sudah terkulai. Segaris air mata melintas di pipi sang sahabat setia dan saudara sedarah dari Halilintar.

"Bangun Kak Hali... Bangun..." Blaze membenamkan wajahnya di dada sang kakak. Ia tidak mau kakaknya yang tertua itu pergi meninggalkannya."Blaze janji ngga nakal lagi... ".

"Blaze..." Kaizo berbisik memanggilnya. "Dia sudah pergi... Relakanlah..."

"Ini salahku, Bang Kaizo... Ini semua salahku... Kalau saja..."

Kaizo langsung menarik Blaze ke dalam pelukannya. "Sudah, ini bukan salahmu, Blaze"

"Kalau saja... Aku bisa membela diri... Kak Hali, Kak Gempa, semuanya... Pasti masih hidup".

"Blaze... Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri" Kaizo menarik Blaze pergi dari tempat itu. "Adikmu, Ice menunggumu... Dia harus tahu apa yang terjadi".

"Bolehkah... Aku tetap disini ? Aku mau menemani kakak". Blaze berbalik menatapi jasad ketiga kakaknya yang mulai ditutupi dengan kain putih oleh para petugas kepolisian. Langkahnya terasa berat, ia masih belum mampu menerima kenyataan bahwa ketiga kakaknya kehilangan nyawa untuknya.

Kaizo menggeleng lembut. "Maaf, Blaze... Ini Tempat Kejadian Perkara. Tapi aku berjanji. Ketiga kakakmu akan dirawat sebaik mungkin". Dari seorang petugas polisi, Kaizo meraih sebuah selimut yang langsung dikenakan pada Blaze yang menggigil karena kedinginan dan shock.

Di dalam sebuah mobil polisi nampak Ice memperhatikan Blaze dalam rangkulan Kaizo tengah dituntun menuju ke mobil dimana ia berada. Jantungnya berdegup semakin cepat. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam otaknya apalagi setelah seklias ia melihat Fang yang terluka dan digotong ke dalam sebuah ambulans dan tidak ada dari ketiga kakak tertuanya yang menyusul di belakang Blaze.

"Kak Blaze !" Seru Ice yang langsung memeluk kakaknya ketika Kaizo membuka pintu mobil dan mempersilahkan Blaze untuk masuk. "Syukurlah kakak selamat".

Blaze kembali sesegukan dalam pelukan adiknya. "Ice... Kak Hali, Kak Gempa, Kak Taufan..."

"Mereka dimana...? Blaze... ? Apa yang...".

Tidak mampu Blaze menjawab pertanyaan adiknya. Ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya dan memeluk adiknya sekuat-kuatnya..

Tangisan Blaze sudah cukup menjadi jawaban pertanyaan Ice. "Mereka... ?"

"Maaf, Ice... Ketiga kakakmu... Gugur..." Jawab Kaizo.

Denyutan jantung Ice serasa berhenti mendengar jawaban dari Kapten Kaizo. Beberapa detik ia terdiam, mengolah jawaban dan tangisan kakaknya. Tidak ada kata-kata yang terucap lagi ketika Ice membenamkan wajahnya pada pundak Blaze. Hilang sudah figur kakak yang biasanya selalu mengejar-ngejarnya untuk bangun pagi, menyiapkan sarapannya sebelum sekolah, dan yang selalu ada untuk menemaninya. Tindakan sayang ketiga kakak tertua mereka telah menyelamatkan mereka dengan harga yang sangat mahal.

"Aku harus membawa kalian berdua ke kantor polisi... Kalian saksi dari peristiwa hari ini".

Blaze melepaskan pelukan adiknya. "Orang-orang yang berbuat ini pada kakak, Ice dan aku harus dihukum".

"Jangan khawatir, Blaze, Ice... Asal kalian tahu. Tidak ada tempat bagi orang-orang seperti mereka itu bahkan di dalam penjara sekalipun..."

"Maksud abang ?" Tanya Ice yang masih berlinangan air mata.

"Aku berani jamin, Ice, hidup mereka di penjara hanya hitungan minggu... Percayalah, mereka-mereka ini pasti mati dalam penjara. Narapidana lain pasti akan... menggulung mereka di dalam sana nanti. Aku tidak akan kaget kalau mereka mendadak ditemukan gantung diri dalam penjara... Dan..."

"Apa ?".

"Kalau ini bisa membuat dendammu sedikit terobati, anak buahku berhasil menangkap orang yang membunuh Gempa".

"Aku mau melihatnya..." Desis Blaze. "Aku mau lihat seperti apa rupa orang yang tega membunuh Kak Gempa".

"Sebaiknya jangan...Karena aku tahu kalian pasti akan membalas dendam..."

"Memang !".

"Blaze, Ice. Aku mengerti kemarahan kalian. Tapi kalau kalian berbuat begitu maka semuanya akan sia-sia. Biarkan keadilan yang berbicara"

.

.

.

"BLAZE, ICE !"

Hari sudah siang ketika Thorn dan Solar berhamburan keluar rumah, berlomba memeluk kedua saudara kembarnya yang pulang diantar Kaizo dan dikawal sejumlah mobil anggota kepolisian. "Syukurlah kamu selamat, Kak Blaze" Solar memeluk Blaze erat-erat, takut merasakan kehilangan kakaknya itu lagi.

"Blaze… Mana Kak Hali ?, Kak GemGem ?, Kak Taufan ?" Thorn bertanya.

"Kak Thorn…" Gumam Ice. "Mereka… Ngga ikut pulang…".

"Hah ? Kenapa ? Apa yang terjadi ?" Thorn langsung menatap Kapten Kaizo yang berdiri di belakang Blaze dan Ice. Sebuah tongkat bambu bergagang kulit yang penuh bercak merah berada di tangannya. "Bang Kaizo… Apa yang terjadi… ?" Firasatnya menjadi sangat tidak enak.

Kapten Kaizo menarik napas panjang. "Ayo masuk… Aku jelaskan di dalam…".

Rombongan pengawal polisi itu membubarkan diri ketika Kapten Kaizo memasuki rumah kediaman BoBoiBoy bersaudara kembar. Setelah suasana sedikit lebih tenang, Kaizo menyuruh Thorn dan Solar duduk bersamanya di ruang tamu. Shinai kepunyaan Taufan yang penuh bercak merah darah diletakannya di atas meja beserta sebuah sarung tangan kulit keras di sisinya.

"Dimana kakak kami ?" Tanya Solar.

"Kakak kalian… Halilintar, Gempa, Taufan…" Kaizo kembali menarik napas. Tugas seperti ini yang sangat dibencinya. Memberitakan kematian kepada orang-orang yang dianggapnya dekat. "Kakak kalian… Tidak akan kembali… Mereka sudah pergi".

"Pergi ? Pergi kemana ?".

"Solar… Kak Hali, Kak Gempa, Kak Taufan… Mereka sudah meninggal… Dibunuh orang yang menculik kami" Ice menjawab dengan suara yang tecekat.

"Aku… Aku ngga percaya… Ini bohong kan ?" Thorn langsung berdiri. "Ngga mungkin… Aku mau lihat !".

"Ice ngga bohong…" Jawab Blaze pelan. "Hanya Kak Fang dan aku yang selamat".

"Tapi... Kak Hali jago karate... Kak Gempa jago taekwondo... Mana mungkin mereka..." Solar tidak sempat berkata-kata lagi ketika dirinya dipeluk oleh Blaze.

"Sekarang tinggal kita berempat, Solar... Tinggal kita saja yang tersisa" Bisik Blaze yang masih memeluk Solar erat-erat. "Aku, Thorn, Ice dan kamu".

Kedua bibir solar gemetar, mencoba menahan diri untuk tidak menangis. Ia berharap Blaze dan Ice hanya berbohong dan ketiga kakak tertuanya akan menyusul pulang sebentar lagi. Di sisi lain ia juga tahu bahwa tidak mungkin seorang Blaze atau Ice berbohong mengenai hal seperti itu, apalagi sampai menangis sembari memeluknya.

Tidak tahan lagi, Solar mulai sesegukan. Air matanya menitik sebelum akhirnya tangisannya benar-benar pecah. Begitupun Thorn yang berada dalam pelukan Ice.

"Blaze... Thorn" Panggil Kaizo.

Yang dipanggilnya hanya menengok ke arahnya tanpa bersuara.

"Ini peninggalan Taufan dan Gempa... Aku yakin mereka ingin kalian yang tertua untuk memilikinya" Lanjut Kaizo sembari menunjuk pada shinai bambu kepunyaan Taufan dan sarung tangan kepunyaan Gempa.

Blaze dan Thorn saling berpandangan. Keduanya saling mengangguk.

Blaze meraih shinai bambu milik Taufan sementara Thorn meraih sarung tangan milik Gempa.

"Kalian berdua sekarang yang menjaga adik-adikmu... Sebagai yang tertua, inilah tanggung jawab kalian. Lindungi Ice dan Solar... Seperti Halilintar, Gempa, Taufan melindungi kalian".

Tidak ada satupun dari keempat saudara kembar yang tersisa itu yang mampu menahan isak tangis dan deraian air mata ketika terdengar suara sirene meraung-raung yang semakin lama semakin keras. Saat ketika tiga buah keranda diusung ke dalam rumah mereka adalah yang terberat bagi mereka berempat. Melihat sosok-sosok yang selama ini menjaga mereka sudah terbaring tidak bernyawa lagi.

Terutama bagi Blaze. Dia yang menyaksikan langsung bagaimana kakaknya-kakaknya kehilangan nyawa mereka untuk menyelamatkan dirinya.

Dan sekarang, diantara yang tersisa, Blaze adalah yang tertua. Mantel tanggung jawab yang berat kini berada padanya. Blaze lah sekarang kepala keluarga empat bersaudara itu di usianya yang masih muda. Di sisi lain, ia masih bersyukur karena masih ada saudaranya yang masih bisa mendampinginya mengemban tanggung jawab yang berat itu.

.

.

.

'Jaga.. Ice… Solar… Ingat… Pesan… Kakek'. Kata-Kata terakhir Halilintar masih terngiang dengan jelas di telinga Blaze yang kini berdiri berdampingan dengan Thorn di depan tiga buah makam yang baru saja ditutup.

"Thorn… Aku dan kamu… Kita yang tertua…" Blaze berbisik kepada Thorn yang berada di sampingnya.

"Ya… Kita sekarang yang harus menjaga mereka" Thorn melirik ke arah Solar dan Ice yang sudah beranjak pergi didampingi kawan-kawan mereka yang lainnya yang turut menghadiri prosesi pemakaman ketiga kakak tertua mereka..

"Aku berjanji, Kak Hali, Kak GemGem, Kak Taufan...Apapun yang terjadi, kami akan saling menjaga".

"Ya, Apapun yang terjadi… Aku akan mendampingi Blaze"

"Kak Hali, Kak GemGem, Kak Taufan… Blaze sama Thorn pamit… Terima kasih sudah menyelamatkan aku dan menjaga kami semua selama ini…" Lirih Blaze sebelum ia beranjak meninggalkan tiga buah makam dengan papan bertuliskan.

-Pembela Kami: Petir BoBoiBoy Halilintar-

-Pelindung Kami: Tanah BoBoiBoy Gempa-

-Penghibur Kami: Angin BoBoiBoy Taufan-

.

.

.

Tamat.
Related content
Comments: 0