HOME | DD

LightDP — Chapter 6. Omake
Published: 2019-05-30 16:56:40 +0000 UTC; Views: 1742; Favourites: 2; Downloads: 0
Redirect to original
Description Apapun Yang Terjadi

Chapter 6. Omake

.

.

.

Jumat sore itu Blaze sedang bernyanyi-nyanyi kecil melantunkan sebuah lagu asing sembari menyapu ruang tengah rumahnya. Begitulah kegiatannya disamping kuliah jurusan Hubungan Internasional di sebuah universitas dan disela-sela latihan Kendo nya.

Sementara kembarannya, Thorn sedang berada di dapur sedang memilah-milah bahan-bahan makanan yang sudah kadaluarsa dari dalam kulkasnya. Berbeda dengan Blaze, Thorn memilih tidak melanjutkan pendidikannya dan meneruskan usaha kokotiam almarhum kakek mereka atau menghabiskan waktu di dojo karate bersama sahabat kakak mereka, Fang.

"Blaze, dari tadi nyanyi Katyusha melulu, ngga ada lagu lain ya ?" Sahut Thorn dari dalam dapur.

"Apa lagi dong ? Yang aku hafal cuman itu" Blaze menyahut balik tanpa menghentikan kegiatan menyapunya.

"Lagu Dunia Barunya Bunkface ?".

"Ah.. Aku cuma hafal refrainnya doang... Polyushka Polye ? Atau Bayushki Bayou ?".

"Duh, ngga deh, suaramu bagus Blaze, tapi kupingku sakit mendengar lagu Russia melulu".

"Hey, kupingku juga panas dan mataku perih melihat kau dan Solar ber-caramelldansen-ria..."

Suara benda berat diseret seret terdengar dari arah dapur. "Blaze, tolong dong, berat nih !".

Dengan sigap Blaze meletakkan sapunya dan membantu Thorn menggotong kantung sampah besar berisikan bahan-bahan makanan yang sudah kadaluarsa dan beberapa malah sudah mulai ditumbuhi jamur kehijauan. Sudah hampir tiga tahun kulkas itu tidak pernah dibersihkan.

Tiga tahun sejak kepergian kakak mereka yang paling getol urusan dapur, siapa lagi kalau bukan Gempa. Sejak perginya Gempa, tidak ada lagi yang sering memasak. Blaze dan Thorn lebih sering belanja makanan yang sudah jadi karena tidak ada diantara keduanya yang pandai memasak. Terakhir kali Blaze memasak air saja sampai gosong dan pancinya bolong. Solar dan Ice sama saja pandainya kalau urusan dapur. Waktu itu Ice malah membersihkan penggorengan teflon dengan amplas karena hasil uji coba Solar memasak.

"Satu… Dua… Tiga ! HUFT !".

Kantung sampah itu dilempar keatas sebuah kantung sampah lain yang isinya kurang lebih sama. Bahan makanan kadaluarsa dan barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai.

"Banyak juga ya…" Keluh Blaze sembari menunduk dengan menumpukan tangan pada lutut. "Masih berapa lagi, Thorn ?" Tanyanya di sela-sela tarikan napas.

"Ini yang terakhir. Kulkasnya sudah kosong, tinggal sisa botol botol air saja".

"Bagus deh" Ujar Blaze sembari melangkah kembali ke dalam rumah diikuti saudara kembarnya.

"Eh, sekarang jam berapa ? mana Solar sama Ice, koq belum pulang ?". Pertanyaan Thorn membuat ia dan Blaze saling berpandangan.

Blaze melirik ke arah jam tangannya. "Jam tiga sore… Iya ya, mestinya mereka sudah pulang".

Kegelisahan seketika melanda kedua saudara kembar itu. Kejadian tiga tahun lalu langsung terputar kembali dalam ingatan mereka.

"Ah… Mungkin mereka terlambat ?" Thorn menawarkan alasan.

"Ngga biasanya…" Gumam Blaze yang semakin terlihat cemas

"Kak Blaze, Kak Thorn !"

"Solar !, Ice !" Kegelisahan Blaze dan Thorn seketika lenyap mendengar nama mereka dipanggil. "Dari mana saja…. Kalian… ?". Kegelisahan langsung tergantikan tanda tanya besar karena Solar dan Ice berada di ambang pintu dengan penampilan yang acak-acakan. Seragam sekolah mereka terkoyak, celana kotor dengan tanah berdebu, telanjang kaki. Tambahan, kacamata model visor Solar tampak retak.

"Kami… Dikeroyok…" Gumam Ice sambil menutupi hidungnya yang kelihatan mengeluarkan sedikit darah.

"Uang jajan, sepatu kami, tas kami... Diambil mereka..." Solar menambahkan detail yang cukup membuat darah Thorn dan Blaze mendidih. "Ice dihajar karena melawan".

"Siapa… Dimana ?" Desis Thorn dengan tangan yang sudah gemetaran dan mengepal.

"Preman anak jalanan di ujung gang Pak Senin Koboi itu…".

Blaze dan Thorn saling menatap. "Marilah ?" Tanya Thorn.

"Marilah !" Sahut Blaze. "Solar… Ice… Tunggu sebentar…".

Blaze dan Thorn melangkah ke dalam kamar mereka berdua.

"Tidak ada orang yang boleh mengeroyok adikku ini…" Geram Blaze sekembalinya dari kamar. Sebuah tongkat bambu bergagang kulit melekat di tangan kanannya. Peninggalan Taufan.

"Saatnya balas dendam… Ayo, Ice... Solar... Tunjukkan dimana mereka" Ujar Thorn yang kini mengenakan sepasang sarung tangan kulit keras. Peninggalan Gempa.

Keempat saudara kembar itu melangkah keluar rumah menuju gang Pak Senin Koboi. Ada perhitungan yang harus dibuat dan diselesaikan… Apapun yang terjadi.

.

.

.

Deja vu

I've just been in this place before

Higher on the street

And I know it's my time to go
Related content
Comments: 2

hafiz0121 [2021-02-01 09:09:38 +0000 UTC]

Biasa nya di journal tapi aneh bagaimana caranya

👍: 0 ⏩: 0

hafiz0121 [2021-02-01 09:09:08 +0000 UTC]

Ini bagaimana caranya tampil di sinj

👍: 0 ⏩: 0